Buih
Labirin pada matamu tertambat bersama kegelapan.
Janjimu pekat termakan usia. cerita tentang debu mendebur seperti buih di garis
pantai yang setiap saat dihempas gelora gelombang. Senyumu tipis seperti kaca
di etalase toko. Bahkan lebih buruk dari buih di tepian pantai karena termakan
dendam ketika gelombang rindu menghempas. Cobalah untuk belajar dari ikan yang
tidak pernah membenci kegelapan di dalam palung terdalam. Bintang-bintang laut
menjadi malu ketika matamu sembab tepat pada garis pantai. Mereka tidak mampu
belajar menjadi seperti buih yang selalu setia dihempas gelombang. Jangan pula
kamu menjadi seperti gelombang yang tidak pernah belajar tentang rasa sakit
dari setiap buih yang dihempasnya. Ia hanya bisa bergelora karena dendamnya
kekal pada setiap buih di tepian garis pantai. Cukup kamu menjadi seperti buih.
Rumah Kita
Adenim di depan gubuk tua menangkap cahaya
dengan tangan terbuka
Menetaplah dalam ingatannya
Anak kecil bersilang sarung membawa embun
melewati setapak di seberang tubuhnya
Matanya berisi letupan cahaya
Embun itu sudah bersetubuh dengan
daun-daun, bahkan sisanya dinikmati rerumputan
Kita adalah sisa-sisa pertemuan yang
berharap secepatnya menuju sebuah alamat
Dan berharap bisa abadi
Lalu gubuk tua itu bergegas menyalakan
pelita
Tanpa kedipan
Bukan sepintas saja
Rumah kita sederhana saja
Yang pernah melahirkan para pejuang aksara
“Apa kabar hari ini?”
Adenim tak menjawab
Mawar tak menjawab
Rumah kitapun tak menjawab
Diam!
Ia sedang menulis puisi
Mawar
Kemanakah arah hasrat ini akan beranjak?
Mungkin di keramain gelak malam atau tersesat bersama perempuan tak dikenal.
Mawar itu mekar menawan menancap harap. Lalu duri-duri itu? Hasrat jiwa setabah
malak menyiram cinta. Jangan mengelak pada darah, biar luka menancap harap.
Jangan biarkan mawar pada mahkota jiwa disesah perkara neraka. Sayang, biarlah
mawar berdarah cinta mengasah nadar kepada pencipta. Tentang kita yang tercipta
pada mawar indah semesta yang berikhtiar mekar mengarah pencipta yang kita
sembah. Mawar mekar semerbak di sepanjang jalan. Tanpa lepas apabila disesah perkara
dunia dan neraka. Mawar indah dijaga pencipta. Mekar indah di pelataran surga.
Doa
Penyukat sukma
Penampi sejati, memisahkan dosa
Agar jiwa tercatat laksmi
Amin
Tetapi jiwa yang menjalar mengakari
semesta adalah letupan amin, akhir dari setiap doa
Barangkali kita. Amin
E-Mail
Tuhan, tunggu sebentar
Aku belum menyiapkan tungku perapian
Lagipula, mataku masih sembab
Mulutku masih berbusa karena laru yang
kuteguk berulangkali semalaman
Menyentuh jumbai jubah-Mu saja aku tak
mampu
Tuhan, aku rapuh
Semoga
Antara cinta dan doa
Amin menjalar
Pada selembar kertas kosong di diarymu
Kugoreskan semoga
Bukan menghitamkan putihnya
Kau tahu kenapa?
Aku hanya ingin bertanya:
Sejauh mana kau melantunkan aksara-aksara
putih?
Sudahkan lilin-lilin yang kuberi saban hari mencair sempurna?
Steven Jadur, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Lembor, Mnggarai Barat dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.


Komentar
Posting Komentar