Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Steven Jadur


 


Buih

Labirin pada matamu tertambat bersama kegelapan. Janjimu pekat termakan usia. cerita tentang debu mendebur seperti buih di garis pantai yang setiap saat dihempas gelora gelombang. Senyumu tipis seperti kaca di etalase toko. Bahkan lebih buruk dari buih di tepian pantai karena termakan dendam ketika gelombang rindu menghempas. Cobalah untuk belajar dari ikan yang tidak pernah membenci kegelapan di dalam palung terdalam. Bintang-bintang laut menjadi malu ketika matamu sembab tepat pada garis pantai. Mereka tidak mampu belajar menjadi seperti buih yang selalu setia dihempas gelombang. Jangan pula kamu menjadi seperti gelombang yang tidak pernah belajar tentang rasa sakit dari setiap buih yang dihempasnya. Ia hanya bisa bergelora karena dendamnya kekal pada setiap buih di tepian garis pantai. Cukup kamu menjadi seperti buih.

 

 


Rumah Kita

Adenim di depan gubuk tua menangkap cahaya dengan tangan terbuka

Menetaplah dalam ingatannya

Anak kecil bersilang sarung membawa embun melewati setapak di seberang tubuhnya

Matanya berisi letupan cahaya

Embun itu sudah bersetubuh dengan daun-daun, bahkan sisanya dinikmati rerumputan

Kita adalah sisa-sisa pertemuan yang berharap secepatnya menuju sebuah alamat

Dan berharap bisa abadi

Lalu gubuk tua itu bergegas menyalakan pelita

Tanpa kedipan

Bukan sepintas saja

Rumah kita sederhana saja

Yang pernah melahirkan para pejuang aksara

“Apa kabar hari ini?”

Adenim tak menjawab

Mawar tak menjawab

Rumah kitapun tak menjawab

Diam!

Ia sedang menulis puisi




Mawar

Kemanakah arah hasrat ini akan beranjak? Mungkin di keramain gelak malam atau tersesat bersama perempuan tak dikenal. Mawar itu mekar menawan menancap harap. Lalu duri-duri itu? Hasrat jiwa setabah malak menyiram cinta. Jangan mengelak pada darah, biar luka menancap harap. Jangan biarkan mawar pada mahkota jiwa disesah perkara neraka. Sayang, biarlah mawar berdarah cinta mengasah nadar kepada pencipta. Tentang kita yang tercipta pada mawar indah semesta yang berikhtiar mekar mengarah pencipta yang kita sembah. Mawar mekar semerbak di sepanjang jalan. Tanpa lepas apabila disesah perkara dunia dan neraka. Mawar indah dijaga pencipta. Mekar indah di pelataran surga.





Doa

Penyukat sukma

Penampi sejati, memisahkan dosa

Agar jiwa tercatat laksmi

Amin

Tetapi jiwa yang menjalar mengakari semesta adalah letupan amin, akhir dari setiap doa

Barangkali kita. Amin

 




E-Mail

Tuhan, tunggu sebentar

Aku belum menyiapkan tungku perapian

Lagipula, mataku masih sembab

Mulutku masih berbusa karena laru yang kuteguk berulangkali semalaman

Menyentuh jumbai jubah-Mu saja aku tak mampu

Tuhan, aku rapuh

 


 

Semoga

Antara cinta dan doa

Amin menjalar

Pada selembar kertas kosong di diarymu

Kugoreskan semoga

Bukan menghitamkan putihnya

Kau tahu kenapa?

Aku hanya ingin bertanya:

Sejauh mana kau melantunkan aksara-aksara putih?

Sudahkan lilin-lilin yang kuberi saban hari mencair sempurna?





Steven Jadur, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Lembor, Mnggarai Barat dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...