Langsung ke konten utama

Frater Hobi Kentut

(Oleh: S. Leon)

Di sebuah unit tempat tinggal para frater, hiduplah seorang Frater yang akan menjadi imam Katolik kelak. Namanya Frater Selka, seorang pemuda berbakat yang begitu bersemangat dalam menjalani kehidupannya di biara. Namun, ada satu kebiasaan khas Selka yang membuat teman-teman di unit merasa kebingungan dan kadang terkesima, yaitu hobinya kentut sewaktu-waktu ketika misa pagi berlangsung.

Frater Selka memulai hari-harinya dengan bangun pagi dan berdoa, kemudian bersiap-siap untuk mengikuti misa pagi di kapela yang letaknya tidak jauh dari kamar tidurnya. Di kapela, Frater Selka duduk di tengah-tengah para frater lain yang khusuk bersujud sambil melantunkan puji-pujian kepada sang empunya kehidupan.

Ketika doa Syukur agung dimulai, susanana terasa teduh dan hening. hanya terdengar suara imam yang melantunkan doa Syukur agung dengan nyaring, dan bunyian lonceng oleh ajuda saat imam hendak mengangkat roti dan piala. Saat-saat itulah frater Selka melancarkan aksinya secara sopan santun, yakni dengan membungkukkan kepala sambil membuang angin secara diam-diam ke belakang. Seketika, aroma di kapela berubah drastis. Imam tidak lagi merentangkan dua tangan, melainkan hanya satu tangan karena tangan satunya menutup hidung. Para frater juga tiba-tiba mengubah posisi katup tangan; bukan lagi di depan dada, tetapi di depan hidung. Ya, inilah efek dari ledakan bom kentut frater Selka setiap pagi. Selama misa berlangsung, ia bisa kentut beberapa kali dengan volume variatif, kadang tak bersuara dan kadang suaranya seperti rudal Israel yang ditembakkan ke Palestina.

Karena tidak tahan dengan kondisi seperti itu, maka suatu hari teman-teman Frater Selka berinisiatif untuk mencari tahu penyebab kentut bau Selka dan mengusulkan solusi agar masalah ini tidak terus menerus mengganggu jalannya misa pagi. Setelah berdiskusi yang didampingi oleh imam yang biasa disebut prefek, teman-teman Frater Selka pun mengajaknya pergi ke seorang ahli gizi dan medis untuk mengecek kondisi kesehatannya.

Setelah diperiksa, disarankan oleh ahli gizi dan medis untuk mengurangi konsumsi makanan tertentu yang menjadi penyebab kentut sangat bau, seperti makan nasi dan kacang-kacangan, serta biasakan perut dioles pakai minyak kayu putih asli yang ada badaknya. Ahli juga menyarankan Frater Selka untuk lebih aktif berolahraga agar angin dalam perutnya bisa keluar dengan lebih mudah.

Frater Selka, yang awalnya merasa malu dan canggung, akhirnya bisa menerima saran tersebut dengan lapang dada. Teman-temannya pun merasa lega dan senang, karena turut membantu penyelesaian masalah ini. Kini misa pagi berjalan lancar tanpa terganggu aroma tak sedap dari kentut Frater Selka, dan moral mereka pun kembali terjaga. Dan tak lupa, mereka kemudian bercanda dan tertawa bersama sambil mengenang kejadian lucu itu.

 

Nb: Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama dan temapat, mohon dimaklumi. Mari kita teretawa bersama. Hehehehe



Sian Leon, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Woa, Manggarai dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...