Langsung ke konten utama

Euforia | Cerpen Steven Jadur

 


Barangkali terlalu aneh jika aku membubuhi geliat tawa yang ngakak untuk mengawali bait-bait kisah dalam folder kenanganku. Hahahaha …. Aku bingung karena euforiaku terlalu sensasional membicarakan syair dan harmoni pembentuk hati, bernama cinta. Aku lupa diri atau mungkin juga gila. Gejolak hati membuat adrenalinku bersihkeras merindu, sehingga pekerjaan pokokku hanyalah menyulam harap di antara sela-sela jarak supaya hanya ada pertemuan sebagai ruang paling abadi di hati dan nalarku. 

Mama, aku sedang jatuh cinta. Tolong mama dengarkan isi hatiku. Aku jadi malu menyampaikan ini kepada mama. Tetapi aku ingat mama pernah mengatakan jangan sekali-kali menyembunyikan rasa cinta , apalagi menyematkannya di bagian terbawah dari lubuk hati karena jika itu terjadi maka ia akan tumbuh menjadi benci dan akhirnya berpendar sebagai luka yang tidak akan pernah ada obatnya di suatu saat nanti; kecuali penawarnya adalah cinta murni yang terbentuk dari keutuhan. Mama tahu tidak, aku terpesona dengan seorang gadis bernama Alia yang pandai merangkai aksara. Wajahnya indah tak sebanding puisi paling indah yang pernah kubaca di jagat raya ini. Apalagi matanya, ma, selalu menjadi bilangan juliet pada monitor yang mempertontonkan isi terdalam jiwanya. Mungkin cantiknya seperti kecantikan mama ketika seusianya dulu. Heheheh…..

Kali lalu mama pernah bilang, jangan mencintai sembarang gila. Hanya itu saja, tanpa menjelaskan apa arti dari semuanya itu. Mungkinkah aku membelot dari apa yang mama katakana itu? Sekarang aku seperti orang gila, lebih tepatnya gila karena cinta. Apakah kegilaan ini yang mama larang? Aku mohon supaya mama tidak melarang aku, hanya kali ini saja. Mungkin ini adalah rumah pertama dan terakhir dari setiap rinduku untuk mencinta. Tapi ma, aku merasa bahwa cintaku kepada Alia, gadis penabur aksara itu bukanlah sebuah kegilaan karena ia toh tidak seperti mantan-mantanku. Ia sangat spesial. Mungkin ini alasan dari setiap kepingan hatiku menjadi gila. Mama sudah mengajari aku untuk jujur dengan kenyataan. Inilah yang kulakukan sekarang, jujur dengan kegilaanku untuk mencintai Alia. Mungkin mama akan senang jika bertemu dengannya karena ia sangat ramah nan indah. Mama bayangkan saja, semenjak pertemuan pertama sampai sekarang, ia tidak luput menanyakan tentang mama. Ia sangat menghargai dan mengagumi sosok seorang ibu yang menurutnya adalah lahan subur penumbuh harapan untuk hidup. Tapi maaf ma, aku belum sempat mengajaknya ke sini karena aku masih menunggu waktu yang tepat, barang sejenak merapal aksara.

Mama tidak usah takut dan mencemaskan aku dengan kegilaanku untuk mencintainya. Aku tidak akan melukai kesucian dan kepolosannya. Aku bukan lagi pemuda dulu yang selalu mendambakan teori tentang cinta dan selalu menangis Ketika dilarang berpacaran. Aku sudah memahami banyak teori tentang cinta, dan terakhir aku belajar tentang teori cinta menurut Plato dan Sigmund Freud, tetapi aku tidak butuh mempelajari itu hanya pada sekadar nalar. Bahkan aku hanya terpesona dengan teori cinta yang mama ajarkan kepadaku dan kuanggap sebagai kesimpulan paling relevan dari setiap teori cinta yang pernah kubaca dan kutemukan. Mama bilang, cinta itu adalah aku yang utuh. Maka tanpa mempersoalkan banyak hal, aku hanya mau bilang kepada mama bahwa aku utuh ketika kata cinta yang tercipta dari mulutku kubuktikan dengan meniti langkah untuk memeluk Alia dengan pelukan paling hangat yang akan kuciptakan sebagai buah dari cintamu juga.

Dulu, mama pasti juga mengalami cinta yang kualami ini, meskipun rsanya seperti sebuah kegilaan. Heheeheh….. Aku rasa itu wajar-wajar saja sebagai manusia yang normal. Terkadang juga mama mengatakan bahwa untuk mencintai itu perlu mempertimbangkan segala sesuatu supaya tidak jungkir balik menjadi benci yang didominasi oleh libido. Maaf jika aku sedikit keras kepala untuk tidak mengindahkan saran mama itu. Aku tidak mempertimbangkan banyak hal untuk mencintai yang satu ini, Alia. Mama tahu kenapa? Aku sudah melewati semua pertimbangan itu secara mutlak yang terwujud dalam kemauanku yang sadar tentang apa dan bagaimana aku harus mencintainya. Hanya itu saja. Dan aku tidak mau memperdebatkan hal itu jika memang apa yang kukatakan adalah sebuah kesalahan bagi mama. Aku melakukannya dengan sadar dan selebihnya adalah getaran yang membuat aku harus mencintainya lebih dalam dan lama, bahkan sampai mati. Aku juga merasa bahagia dengan keberadaannya dalam ruang temu hatiku. Aku rela menjadi pendaki langit jika ia adalah penghuni langit itu. Aku sadar bahwa cinta itu butuh perjuangan. Mama juga pernah bilang bahwa  isi dari cinta itu adalah kebahagiaan yang datang bukan hanya sebuah kebetulan tetapi merupakan luapan kesadaran yang utuh yang bahkan sulit dibahasakan oleh mulut dan nalar. Itu yang kurasakan sekarang. Dan satu lagi, cinta yang sedang kuperjuangkan ini tidak pernah membuat aku lena ataupun sebagai hasil interpretasiku terhadap aroma libido yang terpaut dari kemolekannya. Karena aku sadar bahwa mama selalu mengingatkan aku tentang hal itu. Mama setuju kan, jika aku mencintai Alia? Heehheeh.

Mama maafkan aku karena sudah bercerita panjang lebar tentang cinta sebagai buah cinta yang selalu kita bahas bersama. Andai saja mama dan aku bercerita di dekat tungku api, aku sedang menikmati kopi dan mama sedang makan pisang rebus, pasti akan lebih menarik karena itu lebih berharga dari sekadar diam yang menjelma kebisuan. Tetapi nyatanya yang kudapatkan hanyalah kubur mama yang tidak akan pernah berbicara bahkan juga tidak mendengar. Ahhhh! Sekali lagi maafkan aku ma, karena sebelum kepergian mama aku belum sempat memberikan cucu untuk mama dekap sebagaimana didambakan. Sekarang aku tidak mempunyai teman curhat seutuh mama yang pernah membuat aku paham tentang cinta. Selama ini aku sudah salah mencintai sehingga melukai banyak hati perempuan dan akhirnya tersisa kecemasan sehingga aku tidak bisa memahami cinta yang pernah mama ajarkan kepadaku. Tetapi sekarang aku sudah menjadi penambang cinta yang jujur, tanpa bermain di atas ilusi. Itulah yang kuperjuangkan dengan gadis bernama Alia yang pandai merapal aksara. Sekali lagi, mama setuju kan jika aku mencintai Alia? Aku tunggu jawaban mama dalam mimpiku malam ini.    

Steven Jadur, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Lembor, Mnggarai Barat dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...