Barangkali
terlalu aneh jika aku membubuhi geliat tawa yang ngakak untuk mengawali
bait-bait kisah dalam folder kenanganku. Hahahaha …. Aku bingung karena
euforiaku terlalu sensasional membicarakan syair dan harmoni pembentuk hati,
bernama cinta. Aku lupa diri atau mungkin juga gila. Gejolak hati membuat
adrenalinku bersihkeras merindu, sehingga pekerjaan pokokku hanyalah menyulam
harap di antara sela-sela jarak supaya hanya ada pertemuan sebagai ruang paling
abadi di hati dan nalarku.
Mama,
aku sedang jatuh cinta. Tolong mama dengarkan isi hatiku. Aku jadi malu
menyampaikan ini kepada mama. Tetapi aku ingat mama pernah mengatakan jangan
sekali-kali menyembunyikan rasa cinta , apalagi menyematkannya di bagian
terbawah dari lubuk hati karena jika itu terjadi maka ia akan tumbuh menjadi
benci dan akhirnya berpendar sebagai luka yang tidak akan pernah ada obatnya di
suatu saat nanti; kecuali penawarnya adalah cinta murni yang terbentuk dari
keutuhan. Mama tahu tidak, aku terpesona dengan seorang gadis bernama Alia yang
pandai merangkai aksara. Wajahnya indah tak sebanding puisi paling indah yang
pernah kubaca di jagat raya ini. Apalagi matanya, ma, selalu menjadi bilangan juliet
pada monitor yang mempertontonkan isi terdalam jiwanya. Mungkin cantiknya
seperti kecantikan mama ketika seusianya dulu. Heheheh…..
Kali
lalu mama pernah bilang, jangan mencintai sembarang gila. Hanya itu saja, tanpa
menjelaskan apa arti dari semuanya itu. Mungkinkah aku membelot dari apa yang
mama katakana itu? Sekarang aku seperti orang gila, lebih tepatnya gila karena
cinta. Apakah kegilaan ini yang mama larang? Aku mohon supaya mama tidak
melarang aku, hanya kali ini saja. Mungkin ini adalah rumah pertama dan
terakhir dari setiap rinduku untuk mencinta. Tapi ma, aku merasa bahwa cintaku
kepada Alia, gadis penabur aksara itu bukanlah sebuah kegilaan karena ia toh
tidak seperti mantan-mantanku. Ia sangat spesial. Mungkin ini alasan dari
setiap kepingan hatiku menjadi gila. Mama sudah mengajari aku untuk jujur
dengan kenyataan. Inilah yang kulakukan sekarang, jujur dengan kegilaanku untuk
mencintai Alia. Mungkin mama akan senang jika bertemu dengannya karena ia
sangat ramah nan indah. Mama bayangkan saja, semenjak pertemuan pertama sampai
sekarang, ia tidak luput menanyakan tentang mama. Ia sangat menghargai dan
mengagumi sosok seorang ibu yang menurutnya adalah lahan subur penumbuh harapan
untuk hidup. Tapi maaf ma, aku belum sempat mengajaknya ke sini karena aku
masih menunggu waktu yang tepat, barang sejenak merapal aksara.
Mama
tidak usah takut dan mencemaskan aku dengan kegilaanku untuk mencintainya. Aku
tidak akan melukai kesucian dan kepolosannya. Aku bukan lagi pemuda dulu yang
selalu mendambakan teori tentang cinta dan selalu menangis Ketika dilarang berpacaran.
Aku sudah memahami banyak teori tentang cinta, dan terakhir aku belajar tentang
teori cinta menurut Plato dan Sigmund Freud, tetapi aku tidak butuh mempelajari
itu hanya pada sekadar nalar. Bahkan aku hanya terpesona dengan teori cinta
yang mama ajarkan kepadaku dan kuanggap sebagai kesimpulan paling relevan dari
setiap teori cinta yang pernah kubaca dan kutemukan. Mama bilang, cinta itu
adalah aku yang utuh. Maka tanpa mempersoalkan banyak hal, aku hanya mau bilang
kepada mama bahwa aku utuh ketika kata cinta yang tercipta dari mulutku
kubuktikan dengan meniti langkah untuk memeluk Alia dengan pelukan paling
hangat yang akan kuciptakan sebagai buah dari cintamu juga.
Dulu,
mama pasti juga mengalami cinta yang kualami ini, meskipun rsanya seperti
sebuah kegilaan. Heheeheh….. Aku rasa itu wajar-wajar saja sebagai manusia yang
normal. Terkadang juga mama mengatakan bahwa untuk mencintai itu perlu
mempertimbangkan segala sesuatu supaya tidak jungkir balik menjadi benci yang
didominasi oleh libido. Maaf jika aku sedikit keras kepala untuk tidak
mengindahkan saran mama itu. Aku tidak mempertimbangkan banyak hal untuk
mencintai yang satu ini, Alia. Mama tahu kenapa? Aku sudah melewati semua
pertimbangan itu secara mutlak yang terwujud dalam kemauanku yang sadar tentang
apa dan bagaimana aku harus mencintainya. Hanya itu saja. Dan aku tidak mau
memperdebatkan hal itu jika memang apa yang kukatakan adalah sebuah kesalahan
bagi mama. Aku melakukannya dengan sadar dan selebihnya adalah getaran yang
membuat aku harus mencintainya lebih dalam dan lama, bahkan sampai mati. Aku
juga merasa bahagia dengan keberadaannya dalam ruang temu hatiku. Aku rela
menjadi pendaki langit jika ia adalah penghuni langit itu. Aku sadar bahwa
cinta itu butuh perjuangan. Mama juga pernah bilang bahwa isi dari cinta itu adalah kebahagiaan yang
datang bukan hanya sebuah kebetulan tetapi merupakan luapan kesadaran yang utuh
yang bahkan sulit dibahasakan oleh mulut dan nalar. Itu yang kurasakan
sekarang. Dan satu lagi, cinta yang sedang kuperjuangkan ini tidak pernah
membuat aku lena ataupun sebagai hasil interpretasiku terhadap aroma libido
yang terpaut dari kemolekannya. Karena aku sadar bahwa mama selalu mengingatkan
aku tentang hal itu. Mama setuju kan, jika aku mencintai Alia? Heehheeh.
Mama
maafkan aku karena sudah bercerita panjang lebar tentang cinta sebagai buah
cinta yang selalu kita bahas bersama. Andai saja mama dan aku bercerita di
dekat tungku api, aku sedang menikmati kopi dan mama sedang makan pisang rebus,
pasti akan lebih menarik karena itu lebih berharga dari sekadar diam yang
menjelma kebisuan. Tetapi nyatanya yang kudapatkan hanyalah kubur mama yang
tidak akan pernah berbicara bahkan juga tidak mendengar. Ahhhh! Sekali lagi
maafkan aku ma, karena sebelum kepergian mama aku belum sempat memberikan cucu untuk
mama dekap sebagaimana didambakan. Sekarang aku tidak mempunyai teman curhat
seutuh mama yang pernah membuat aku paham tentang cinta. Selama ini aku sudah
salah mencintai sehingga melukai banyak hati perempuan dan akhirnya tersisa
kecemasan sehingga aku tidak bisa memahami cinta yang pernah mama ajarkan
kepadaku. Tetapi sekarang aku sudah menjadi penambang cinta yang jujur, tanpa
bermain di atas ilusi. Itulah yang kuperjuangkan dengan gadis bernama Alia yang
pandai merapal aksara. Sekali lagi, mama setuju kan jika aku mencintai Alia?
Aku tunggu jawaban mama dalam mimpiku malam ini.


Komentar
Posting Komentar