
Tulisan ini semacam reaktualisasi dari tulisan sebelumnya mengenai profil
unit Efrata yang saya tulis tahun lalu ketika kami merayakan ulang tahun unit
yang ke-28. Sayang jika memoria ini tidak terus dibarui seiring bergantinya
penghuni-penghuni di rumah tercinta ini. Perjalanan setahun yang sudah lalu
telah menyisakan begitu banyak kenangan. Saya boleh katakan begini: “Sengit
benar rumah ini. Ia tak segan-segan merelakan kepergian sekian banyak orang
yang terlanjur jatuh cinta padanya. Satu hal yang pasti, ia selalu yakin bahwa
yang pergi bukan karena tidak baik, dan yang tinggal bukan juga yang terbaik.
Semuanya baik dengan jalannya masing-masing.” Datang dan pergi adalah suatu
keharusan dalam sebuah proses formasi. Mereka yang datang, mengukir cerita,
merawat tawa, mereka yang pergi meninggalkan sejarah, menambah kisah yang
disebut kenangan.
Barangkali beginilah cara saya dan teman-teman bernostalgia. Di ulang
tahun yang ke-29 ini, barisan kami semakin kuat, setelah 4 orang frater diutus
ke tempat Top dan 11 orang diutus menjadi rasul awam. Mereka adalah orang-orang
mampu yang berani mengambil keputusan demikian. Kami juga patut berbahagia
karena Pater Simeon Bera Muda, SVD menghabiskan masa baktinya sebagai dosen dan
prefek bersama kami. Perlahan-lahan lembaran itu kami tutup.
Tentang Efrata
Keadaan
suatu tempat tak selalu bersifat statis. Ia akan senantiasa berubah seturut
perubahan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Perubahan tersebut bisa saja
berakibat baik sekali dan bahkan bisa buruk sekali, bergantung pada dampak yang
dirasakan oleh manusia yang memahaminya. Namun dalam keadaan yang buruk
sekalipun pasti ada hal baik yang diperoleh dari sana.
Dahulu,
Martin Buber bermadah: “Manusia sadar bahwa hidupnya ditentukan oleh
keadaan sekitarnya yang tak terelakkan. Manusia timbul dan lenyap dalam waktu.
Keterbatasan ini menimbulkan rasa ketergantungan manusia pada sesuatu yang
lain. Dan pada saat itu pula, alam tampak sebagai tanda dari rahasia yang tak
terselami. Alam membawa pesan rahasia tentang Allah yang Mahakuasa. Segala yang
ada berasal dari Dia. Dialah dasar realitas. Segala yang ada mengandung rahasia
yang tak terselami, rahasia yang mengagumkan sekaligus menakutkan, rahasia yang
membuat manusia termangu-mangu” (Fios, 2000:46).
Prahara
yang terjadi pada 12 Desember 1992 itu menyisahkan luka yang masih membekas
dalam ingatan, terkhusus bagi mereka yang hidup dan mengalaminya secara
langsung kala itu. “Gempa bumi berkekuatan 6,8 skala Richter yang berpusat di
laut Flores dengan kedalaman 15 kilometer di bawah permukaan laut” (Fios,
2000:47). Tsunami yang mengamuk saat itu menjadi salah satu bagian dari cara
alam menyeleksi hidup manusia. Maut seperti pemburu, mengejar habis-habisan
tubuh yang pontang-panting tak tahu harus lari ke mana. Tentu saja dampak dari
bencana ini sungguh luar biasa. “Diperkirakan 1.951 penduduk meninggal dunia.
Total kerugian material dikalkulasikan mencapai sekitar Rp 564 miliar.” (Fios,
2000:47).
Bayangkan
saja jika melihat perubahan serta kemajuan yang terjadi saat ini direnggut
bencana yang sama, kira-kira berapa kerugian yang ditelan? Wajah anggun kota
Maumere saat ini bisa saja merupakan bagian dari sebuah proses panjang akibat
bencana tersebut.
Seminari
Tinggi St. Paulus Ledalero yang merupakan bangunan misi SVD saat itu tentu
sudah terbilang sangat maju. Namun karena gempa, hampir semuanya luluh lantak.
Dalam keterpurukan tersebut, keberpihakan terhadap orang lain tetap dijunjung.
Dengan kekuatan yang tersisah para pater dan frater saat itu bertahan dengan
keadaan yang ada sambil menyalurkan bantuan bagi mereka yang sangat
membutuhkan. Sempat ada ide bahwa para frater diliburkan, namun atas
pertimbangan penting soal bagaimana peran mereka (baca: para frater) sebagai
calon misionaris, maka mereka dilibatkan dalam kegiatan penyaluran bantuan.
Untuk
mengantisipasi keadaan ini maka dibangunlah barak-barak sederhana di mana para
frater dapat tinggal dan bertahan. Salah satu barak tersebut akhirnya menjadi
cikal bakal berdirinya sebuah Unit campuran di lingkungan Gere. Sebuah proses
panjang dan menjadi rahmat di tengah bencana ketika panggilan semakin bertumbuh
subur dalam Serikat Sabda Allah.
Setelah melewati diskusi yang alot dan panjang, para penanggung jawab formasi di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero akhirnya sepakat untuk menempuh alternatif baru yang lebih sesuai dengan tuntutan situasi dan kebutuhan kita, yaitu formasi dengan sistem unit campuran. Model ini kemudian dibicarakan dan direstui oleh Kapitel Rumah Tahun 1994 dan kemudian dijadikan resolusi dalam kapitel provinsi SVD Ende tahun 1994. Sejak bulan Agustus tahun itu dimulailah di Ledalero ini dengan Sistem Unit Campuran.
Bermula
dari Sebuah Barak
Pada
tanggal 27 September lalu, Unit Efrata merayakan pesta unit yang
berpelindungkan St. Vincent A Paulo. Pesta diselenggarakan dengan cara yang
agak ‘berbeda.’ Kali ini kami mengundang umat di sekitar unit untuk hadir
bersama dan merasakan sukacita kami. Kehadiran mereka merupakan inisiatif dari
P. Antonio Camnahas perfek unit, yang barangkali berpikir bahwa solidaritas
yang paling sederhana akan tercipta ketika ada orang lain juga turut merasakan
sukacita yang kami alami. Hal ini berangkat dari pengalaman kami tahun
sebelumnya yang begitu jauh dari umat karena Covid-19 juga alasan-alasan teknis
lainnya.
Setelah
melalui proses persiapan yang cukup menguras tenaga dan pikiran karena
dikelilingi oleh serumpun ide cemerlang, akhirnya kami berhasil memilih mana
yang terbaik bagi kami. Lapangan futsal sebagai resolusi terakhir. Konsep acara
yang apik diatur oleh staf unit serta kelancaran acara yang dipandu oleh Master
of Ceremony Fr. Fill Naga, SVD membuat malam itu terasa begitu singkat. Ada
kekhawatiran yang muncul dari wajah Fr. Ray Mbenga, sepertinya ia tak ingin
agar malam ini jangan cepat berlalu. Gelak tawa yang berkepanjangan
mengisyaratkan seperti ada sesuatu yang ‘baru’ untuk kami. Di bawah tema Efrata
Engkau Bukan yang Terkecil kami berkumpul menjadi sebuah
keluarga. Remang-remang cahaya lampu serta makanan yang berlimpah malam itu
membuat kami sungguh merasakan sebuah suasana bahwa sesungguhnya kami bukan
lagi yang terkecil. Kami adalah sebuah keluarga besar, apalagi dengan
kedatangan anggota unit baru yakni 9 orang konfrater tingkat II dan Pater
Simeon Bera Muda, SVD. Wajah-wajah mereka inilah yang menyiratkan bahwa ada
harapan baru untuk unit ini beberapa tahun ke depan.
Di
tengah kebersamaan itu, hemat saya ada sesuatu yang sangat menarik. Kebetulan
kami juga mengundang P. Leo Kleden, SVD. Beliau begitu antusias mendengar saya
mengatakan bahwa “Kami mengundang pater untuk mengikuti acara pesta unit kami”.
Singkat cerita, malam itu Pater Leo memulai berbicara di depan kami semua.
Beliau memiliki ‘sesuatu’ yang memang harus dan wajib kami ketahui. Hal itu
mengenai sejarah pembangunan unit kami. Bencana gempa dan tsunami pada tahun
1992 tersebut membawa begitu banyak perubahan, termauk berdirinya unit Efrata.
Mula-mula dibangun barak agar ditempati oleh para frater yang saat itu
jumlahnya lumayan banyak, sedangkan bangunan dalam keadaan rusak parah. Salah
satu saksi sejarah yang sempat hadir malam itu adalah Bapak Herman Heri dan
Mama Leny. Bapak Herman adalah salah satu tukang yang turut ambil bagian dalam
proses pengerjaan barak tersebut. Sedangkan mama Leny adalah tetangga kami yang
sudah lebih dahulu menetap di Gere sebelum dibangunnya unit kami.
Dalam
syeringnya P. Leo yang saat itu bekerja di Generalat bersama Superior General
P. Henry Barlage, SVD mengunjungi Ledalero. Pada kesempatan inilah P. Leo
menyematkan nama Efrata pada bangunan yang semula dari barak tersebut. Selain
itu beliau juga menyematkan St. Vincent A Paulo sebagai pelindung unit Efrata.
Karena itulah setiap tanggal 27 September kami merayakan pesta unit sebagai
wujud penghormatan kepada Santo yang selalu menomorsatukan orang lemah miskin
dan tersingkir ini. Semua ini menjadi bekal sejarah, kenangan dan barangkali
akan menjadi cerita turun-temurun untuk sama saudara yang kelak akan berlabuh
di rumah ini.
Efrata
Engkau Bukan yang Terkecil
Setelah
melewati proses Panjang, sejak dari barak sederhana dan perombakan serta
pengalihan fungsi dari unit campuran ke unit probanis kemudian kembali menjadi
unit campuran, Efrata tetap berdiri teguh. Dalam usia yang ke-28 ini kami
melihat bahwa unit ini bukan lagi yang terkecil. Walaupun berawal dari sebuah
barak namun Efrata kini hadir dengan baru serta penghuninya yang memiliki
kapabilitas yang mumpuni.
Kini di usia yang ke-29 ini kami sudah memulai
cerita yang baru, setelah hadir para lakon baru. Mereka berjumlah 13 orang,
dengan rincian 12 orang tingkat II dan 1 orang tingkat III. Masing-masing
mereka dengan keunikannya. Selain para frater, posisi Pater Simeon digantikan
oleh Pater Baltasar Rengga Ado, SVD. Kami menyapanya Pater Bal. Beliau seorang
yang kalem dan mudah bergaul. Bersama Pater Anton, keduanya berjalan
mendampingi kami untuk meraih apa yang kami impikan.
Sampai pada titik ini, bersama teman-teman
tingkat IV lainnya kami akan memasuki tahun yang ke-3 di sini. Kami selalu
memiliki tekad dan impian untuk tetap menjaga harmoni di rumah ini. Entahlah,
menjadi yang terkecil ataupun yang terbesar, itu bukan impian kami, karena yang
terpenting adalah apa yang kami temukan dalam hidup bersama di rumah ini.
Seperti rumah tangga lazimnya, rumah tangga kami juga memiliki kekurangan. Ada
persoalan wajib yang tak bisa kami hindari di sana. Namun apa boleh buat,
keadaan punya tuntutan demikian. Kami selalu berjuang untuk tetap
mempertahankan tempo yang ada. Kesulitan hanyalah salah satu jalan agar kami
tetap bertahan bersama di tempat ini. Akhirnya Efrata tetap menjadi rumah yang
senantiasa memberi warna bagi panggilan kami. Semua yang terukir di sini akan
menjadi cerita yang tak akan lekang. Selamat berpesta Pater dan teman-teman.
Pegang kuat-kuat tangan St. Vincentius a Paulo. Jangan lepas.

Komentar
Posting Komentar