Langsung ke konten utama

Moke dari Orinmude | Rommy Sogen

 


Kalau orang Lamaholot punya arak, orang Sikka punya moke. Setiap daerah punya minuman khas yang bisa membuat kita akrab dan bisa saja sempoyongan kalau overdosis. Ini bukan hanya sekedar intermeso; bukan juga melulu tentang moke yang kadang bisa membuat kita terlarut dalam kenangan sampai lupa diri kalau kita sedang mabuk. Saya coba gali makna di baliknya.

 

Terkadang kita berpikir, dalam hidup ini kita harus melihat ke dalam diri untuk menemukan inti dari perjalanan hidup kita. Bahkan dengan memegang erat prinsip ini, kita lupa bahwa terkadang berani keluar untuk membawa sesuatu yang baru masuk, juga menjadi suatu hal yang sangat penting.

Persaudaran antara kami anggota Unit Efrata dengan umat Stasi Orinmude terbilang cukup dekat semenjak Frater Valen Ukat, si komponis hebat itu membuka jalan untuk kami semua. Stasi Orinmude adalah salah satu stasi di Paroki Ili, Keuskupan Maumere. Kehidupan umat di sana terbilang cukup sederhana; mereka orang kampung yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Mereka sering melibatkan kami ketika ada perayaan Ekaristi ataupun latihan koor menjelang hari raya Natal dan Paskah. Demikian, kami juga melibatkan mereka ketika ada kegiatan bersama misalnya ketika kami merayakan ulang tahun prefek unit kami P. Antonio Camnahas di Pantai Krokowolon pada tanggal 7 November 2021 silam.

Berkat kegiatan di Krokowolon tersebut, muncullah ide untuk melakukan kunjungan ke unit. Hal ini dibuat karena umat dari Orinmude ingin mengenal lebih dekat kehidupan kami di unit, juga bagian dari promosi panggilan untuk anak-anak muda yang ingin memilih menjadi biarawan. Menurut informasi terkini yang saya ketahui, sudah ada satu calon yang ingin masuk menjadi anggota SVD. Sebuah sinyal bagus untuk perkembangan karya misi serikat ke depannya. Bersama Kakak Apol Sukardi, seorang awam SVD yang begitu luwes dalam berbagi cerita dan pengalaman hidupnya, kami akhirnya menyepakati bahwa akan ada kunjungan dari Orinmude. Namun karena kendala waktu, kegiatan tersebut baru bisa terlaksana pada tanggal 6 Februari 2022 ketika Frater Pius Ngey melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Unit Efrata.

 

Dari Orinmude ke Efrata

Kunjungan dari Orinmude memang sangat luar biasa. Selain eksis di lapangan futsal sekaligus lapangan voli kami, mereka juga membawa musik kampung lengkap dengan para penyanyinya. Gadis-gadis dan pemuda kampung memang selalu menampilkan sesuatu yang apa adanya, tetapi punya kesan yang begitu dalam. Singkatnya kebersamaan kami sore hingga malam itu membuat geger warga Gere dan sekitarnya. Banyak umat yang turut hadir, bahkan ada yang membantu master chef kami Frater Rony Subun di dapur. Dengan kebersamaan ini maka muncullah ide baru untuk mengadakan kunjungan balasan. Staf unit akhirnya menyiasati hari dan tanggal yang tepat untuk kami.


Baca juga: Dead Poets Society: Sebuah Perjalanan Menuju Carpe Diem | Paskal Kedang

 

Dari Efrata ke Orinmude

Minggu tanggal 27 Februari, kami berangkat ke Orinmude. Kami bahagia sekali karena ada umat dari Gere yang turut mendukung kami. Mereka ikut serta dengan kami ke Orinmude. Suatu bukti bahwa mereka juga memiliki kami dan kami juga memiliki mereka. Di bawah pimpinan P. Simeon Bera Muda dan ketua Unit Efrata, kami disambut dengan meriah diiringi gong waning dan tarian hegong khas orang Sikka. Sungguh kami tidak pernah menduga bahwa akan ada penyambutan seperti itu. Sangat mengejutkan lagi, ternyata ada tenda pesta yang dihiasi dengan foto anggota Unit Efrata, suatu bentuk dukungan yang patut kami syukuri.

Setelah bersenda gurau ditemani segelas kolak, kami pun berarak ke lapangan voli di bawah komando Fr. Ray Mbenga dan Ben Kofi yang berperan sebagai pengurus olahraga unit. Pertandingan persahabatan berlangsung sengit. Fr. Epy Deman putra Jayapura itu punya skill yang luar biasa. Ia menjadi man of the match dalam pertandingan tersebut. Setelah pertandingan berakhir kami beristirahat sejenak sambil bertukar cerita dan pengalaman yang kami punya. Perlahan bunyi musik yang mulai terdengar menghantar kami untuk makan malam bersama. Kakak Apol dalam sambutannya yang sangat sederhana mengatakan bahwa soal pertandingan sore tadi, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Kalaupun ada yang menang, kemenangan tersebut milik kita bersama. Dan kalaupun ada yang kalah, kekalahan itu juga milik kita bersama. Sungguh kebersamaan ini akan selalu kami kenang, yang pasti dengan cara kami masing-masing.

 

Cara Saya Mengenang Orinmude

Saya memiliki sebuah pengalaman unik yang barangkali layak saya kenangkan di sini. Entah-berentah, saya tidak pernah berpikir pengalaman ini akan saya alami. Mungkin pernah jadi khayalan, tetapi untuk menjadi kenyataan seperti ini, jujur saya tak pernah menduganya. Datang ke Orimude bukan kali pertama bagi saya. Selama saya berada di sana, ada beberapa orang yang bertegur sapa dengan saya dalam bahasa Sikka. Interaksi ini terjadi beberapa kali. Bermodalkan pengetahuan seadanya saya menjawab sekenanya saja. Tebersit dalam pikiran saya, mungkin mereka mau melatih saya supaya bisa fasih dalam bahasa Sikka. Ternyata saya salah. Saya jadinya bingung dengan diri saya sendiri. Sempat saya berikhtiar untuk melupakannya dengan ikut berjoget bersama Ventus Wejo dan Andi Denatalis yang sudah berkeringat sedari lagu joget pertama diputar.

Tak terasa malam semakin larut. Kami mulai bersiap-siap untuk kembali ke unit. Tak lama kemudian seorang ibu memanggil saya. Tangannya menggapai pundak saya. Sekali lagi saya bingung. Ibu itu kemudian meminta maaf berulangkali kepada saya; “Frater, mama minta maaf eee. Mama merasa sangat bersalah karena mama salah orang. Mama pikir Nong bukan frater. Kemarin dulu ada orang muda dari Bola yang sangat mirip dengan frater. Dia datang bergabung dengan OMK di sini. Sebagai bentuk permohonan maaf mama, mama kasih nong frater satu botol moke.” Sembari menerima pemberian ibu tersebut, saya lalu bertanya dalam hati, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini sebuah pertanda bagi saya untuk segera meninggalkan kebetahan saya di biara? Sekiranya ada dua hal yang bisa saya temukan dari pengalaman ini.

Pertama, pengalaman ini mengajarkan saya untuk bertanya lebih jauh lagi, kalau orang lain sudah tidak tahu bahwa saya seorang frater, apakah saya masih tahu bahwa saya seorang frater? Satu botol moke dari Orinmude ini menyadarkan saya untuk segera kembali dari segala macam keterpurukan hidup yang sering saya akrabi selama ini. Barangkali masa prapaskah ini harus saya maknai sebagai momen untuk kembali; Tuhan aku mau pulang. Apakah hidupku hanya menabung dosa? Entah berapa lama lagi, sungguh aku ingin pulang. Di kaki-Mu ada nyaman yang ingin selalu kuteguk.  

Kedua, perjumpaan dalam pengalaman ini membuat saya yakin bahwa mengenal diri sendiri lebih jauh bermartabat ketimbang saya berjuang mengenal orang lain lalu tidak mengenal diri sendiri. Saya pernah membaca sebuah tulisan milik Pater Kristo Suhardi, SVD dalam status Whatsapp milik Jepo Sulaona. Bunyinya demikian; “Tidak penting kalau orang lain tahu bahwa engkau seorang frater, dan tidak penting juga kalau orang lain tidak tahu kalau engkau seorang frater, yang terpenting adalah engkau sendiri tahu diri bahwa engkau seorang frater.”

Malam semakin singkat. Perjalanan yang cukup jauh membuat saya tertidur dalam mobil. Satu botol moke pemberian ibu tersebut, saya berikan kepada Bapa Tesen, tetangga kami. Saya sudah mendapatkan suatu hal yang lebih, sekaligus menggandakan kebaikan. Terima kasih Orinmude.


Baca juga: Valentine di Biara | Opini Noldy Sema




Rommy Sogen, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Tenawahang, Flores Timur. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero.


Komentar

  1. Mantap opu, suatu pengalaman yang sangat bermakna.. semangat selalu opu

    BalasHapus
  2. Orinmude yang artinya rumah jeruk, tidak adaa 1 pohon jeruk di sana.
    Tapi kesederhaan rasa yang sudah terlarut dalam cerita yg fr dapat dari orinmude itu serasa macam air jeruk yg entah apa rasanya membuat fr tak beruasara untuk menyampaikan asin manisnya larutan cerita itu, yg baik di simpan manis bawalah rasa itu sampai ke hati, dan yang nyilu buanglah ke dalam tanah yg dalam agar ia tidak tumbuh dan berkembang
    Orinmude di hati

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...