Langsung ke konten utama

Pelabuhan Kepastian Selain Halte | Cerpen Ventus Wedjo

 


Hujan mulai mereda pertanda hujan sore ini akan usai. Mataku tertuju tenang melihat rintik-rintik hujan yang jatuh pada genangan air di pinggir halte tempat aku berteduh. Aku sendiri ditemani hembusan angin yang mencumbu kulitku. Cumbuan angin yang cukup liar membuat tubuhku sedikit bergetar.

Hujan awal Oktober sering membuat aku terpaku berjam-jam di halte ini setiap kali aku pulang dari tempat kerjaku yang jaraknya cukup dekat. Dan hiburanku saat menyendiri di sini hanyalah menikmati butir-butir air yang jatuh dari langit pada genangan air di pinggir halte. Butir-butir air itu menemani lamunanku tentang seorang perempuan yang sebelumnya selalu bersamaku berteduh di halte ini. Namun, sudah beberapa hari ini ia tidak muncul mengusik sepi saat hujan awal Oktober ini. Kami sempat berkenalan dan bisa jadi kami saling suka. Senyuman yang menawan mengisyaratkan cinta pada pandangan pertama pada hujan awal Oktober. Kami berkenalan dan selalu bersama di halte itu. Nama perempuan berparas cantik itu Nia. Aku tidak sempat menanyakan tempat tinggalnya, tetapi yang aku tahu dia adalah anak seorang pensiunan polisi.

Sekian lama aku hanyut dari lamunan tentang Nia, sambil hatiku terus menggemakan tanya tentang dirinya yang beberapa hari ini tidak muncul. Tiba-tiba angkutan yang aku tunggu sedari tadi muncul di tikungan dan mengarah ke halte. Aku melambaikan tanganku sebagai isyarat kepada sopir agar berhenti di depan halte. Sebelum angkutan itu berhenti, sebuah tangan dari arah belakang menarik tangan kananku. Serentak aku membalikkan wajahku dan mendapati senyuman tipis yang telah lama hilang.

“Jangan pergi dulu,” kata Nia dengan ekspresi wajah sedikit memelas.

Aku lalu memberi isyarat kepada Pak Supir untuk berjalan terus dan akhirnya angkutan itu terus melaju meninggalkan aku dan Nia di halte. Hujan masih rintik-rintik sementara aku dan Nia kembali duduk dan terdiam cukup lama.

“Apa kabar Nia? Lama tidak kelihatan,” tanyaku membuka percakapan.

“Aku selalu di sini bersamamu, Ton. Tapi kau tak melihatku,” jawab Nia.

Aku menatapnya keheranan. “Bercanda kamu, aku sudah beberapa hari ini selalu sendiri di halte ini.”

“ Benar Anton. Aku ada di sini bersamamu. Kamu saja yang terus mengelamun. Tatapanmu hanya kepada rintik hujan dan tidak menyadari aku ada di sampingmu.”

“Hahaha, sudalah Nia. Cukup candamu. Aku serius karena sudah beberapa hari aku tak melihatmu. Padahal perjumpaan kita di halte ini adalah saat yang selalu aku nantikan.”

“Kau merindukanku?” tanya Nia sambil tersenyum malu.

Aku pun ikut tertunduk malu karena kalimat itu keluar dengan sendirinya. Aku kembali menatapnya dalam. “Iya, Nia. Aku merindukanmu karena aku sadar bahwa aku menyukaimu setelah banyak kesempatan kita bersama di halte ini. Aku ingin kamu selalu ada di sampingku bukan hanya di halte ini.”

Nia tertunduk. Wajahnya mengekspresikan sesuatu, tetapi aku tidak berani menebak arti ekspresi itu.

“Anton, aku juga sebenarnya menyukaimu sejak awal pertemuan kita, tetapi aku tidak berani mengungkapkan perasaanku.”

Terus terang aku gugup mendengar apa yang baru saja Nia sampaikan. Ternyata kami berdua benar saling menyukai.

“Nia, maukah kau menjadi pacarku?” tanyaku tak sabar.

Nia terdiam cukup lama. Entahlah, mungkin pertanyaan itu terlalu cepat untuk dia yang bertemu denganku hanya karena hujan yang membawa kami berteduh di halte ini, atau mungkin ada hal lain.

“Anton, aku menyukaimu dan kau juga menyukaiku. Aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaanmu.”

“Tidak masalah, Nia. Aku akan menunggu jawaban darimu.”

Hujan sudah reda dan kami memilih untuk tetap duduk di halte dan saling bertukar cerita sampai angkutan datang lagi. Setelah itu kami kembali ke rumah masing-masing.


Baca juga: Puisi-Puisi Rommy Sogen

***

Satu tahun berlalu. Nia kembali menghilang setelah peristiwa aku mengungkapkan perasaan dan rinduku. Tanpa sadar aku perlahan membencinya karena aku merasa dipermainkan. Masih di halte yang sama, setiap hari aku duduk dan menanti kehadiran Nia yang belum memberi jawaban atas perasaanku kepadanya. Satu tahun aku menanti jawaban dan sosok Nia. Satu hal yang aku sesali bahwa aku tidak sempat meminta nomor teleponnya sehinga aku dilanda tanda tanya tentang hilangnya kabar tentang Nia. Akhirnya aku sendiri menyerah pada waktu yang menyeretku sampai pada kesimpulan bahwa Nia pasti sudah berbahagia dengan laki-laki pilihannya yang bisa jadi lebih tampan dan lebih baik dariku. Membayangkan bahwa dia sudah punya kekasih lain sudah menyulut emosiku. Tetapi aku sendiri seperti tidak yakin dengan kesimpulan ini. Jika benar Nia yang aku cintai harus bahagia dengan lelaki lain, aku sudah siap menerima kegagalanku dalam mencinta dan akan membencinya seumur hidupku.

Waktu terus berjalan sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang perempuan di halte pada siang hari. Tanggal hari ini sudah di pertengahan Oktober, saat di mana aku sedang kembali bernostalgia dengan ingatan saat pertama bertemu dan jatuh cinta kepada Nia dua tahun silam. Kami berkenalan dan akhirnya aku tahu nama perempuan itu Jeni. Anehnya kisah pertemuan kami tidak jauh berbeda dari kisah pertemuanku dengan Nia. Kami makin hari makin dekat, sampai aku sendiri sadar bahwa aku menyukainya. Rasa yang hadir sama seperti rasa yang muncul dua tahun silam kepada Nia. Setelah berulang kali bertemu dengan rasa cinta yang semakin kuat, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

“Jeni, aku mau mengatakan sesuatu,” kataku membuka percakapan. “Sebenarnya aku menyukaimu sejak awal kita bertemu di halte ini. Maukah kamu menjadi pacarku?

Jeni melongo. Mulutnya terbuka dan tatapannya begitu dalam ke arah mataku. “Kamu serius, Ton?” tanya Jeni.

Aku menggenggam tangannya. “Aku serius, Jen. Aku menyukaimu bahkan setelah lamanya kita selalu bersama, halte ini menjadi saksi bisu bahwa aku sayang dan mencintaimu.”

Jeni tersenyum ringan, tetapi ada yang aneh dengan senyuman itu.

“Anton, aku juga sebenarnya menyukaimu. Pertemuan ini sebenarnya sudah aku rencanakan. Bukan sebuah kebetulan. Dan setelah mengenal dan dekat dengan kamu, aku merasa nyaman. Namun, ada yang lain yang harus kamu ketahui terlebih dahulu sebelum aku menjawab pertanyaanmu tadi, ya.” Jelas jeni sambil tertunduk.

“Baiklah, Jen. Aku akan menunngu jawaban dari kamu. Tetapi apa maksudmu bahwa kau sudah merencanakan pertemuan ini dan bukan sebuah kebetulan?” Aku bingung.

Jeni kembali tersenyum padaku. “Besok aku mau kamu datang jam 8 pagi di halte ini. Ada sesuatu yang ingin aku  sampaikan”

“Baiklah, Jen.” Jawabku senang bercampur heran. Tetapi, ya sudahlah. Toh waktu Jeni untuk menjawab pertanyaanku tidak memakan waktu bahkan tidak seperti menanti  jawaban serupa kisahku dengan Nia.

Keesokan paginya sesuai dengan permintaan Jeni, aku duduk menunggu di halte tempat awal kami bertemu. Aku tidak sabar lagi mendengar jawaban dari Jeni. Tidak lama aku menunggu, Jeni tiba-tiba berdiri di sampingku entah sudah berapa lama. Aku menatapnya dalam dengan penuh harap mendengar jawaban darinya.

“Anton, aku sudah memutuskan bahwa aku mau menjadi pacarmu. Terima kasih untuk keberanianmu mengungkapkan perasaanmu padaku. Aku siap menjalin tali cinta bersamamu,” kata Jeni sambil tersenyum.

Aku sangat bahagia mendengar jawabannya. Tetapi ada yang aneh dengan tatapan matanya. Matanya perlahan berair dan sedikit lagi akan tumpah membasahi pipinya.

“Jeni, terima kasih ya sudah mau menerima perasaanku. Aku sayang kamu dan aku berharap kita sama-sama berjalan menjaga tali cinta kita ini sampai keabadian,” pintaku dengan semangat yang membara karena terlampau bahagia.

Aku mendekapnya dan menarik tubuhnya kedalam pelukanku. Tidak lama kemudian, aku merasakan getaran tubuhnya semakin kuat. Aku kemudian melepas pelukanku dan menatapnya dalam. Belum aku bertanya Jeni mengusap air matanya dan berkata.

“Anton, aku minta maaf. Sebenarnya aku adalah adik dari Nia. Perempuan yang menghilang setahun yang lalu dari hidupmu. Yang hilang bersama jawaban atas perasaan yang kau  utarakan padanya.”

“Apa? Kau adik Nia?” Aku tersentak mendengar apa yang baru saja dia katakan.

Tanpa berkata lagi. Jeni menarik tanganku dan membawaku ke suatu tampat yang belum pernah aku pijaki.

Tubuhku terpaku, kakiku sedikit bergetar dan ingin rasanya aku menangis. Batu nisan yang aku lihat di hadapanku yang bertulisakan membuatku mati seribu bahasa. Nama yang menghilang bersama raga dan jawabannya setahun yang lalu.

“Nia adalah kakak perempuanku. Dia mengalami nasib tragis, ditabrak oleh orang yang tidak bertanggung jawab tepat pada hari yang dia rencanakan akan memberi jawaban pasti untuk menjadi kekasihmu.” Jelas Jeni.

Aku masih terpaku. Tubuhku melemah karena perasaan yang berkecamuk dalam diriku. Aku berpaling dari batu nisan bertuliskan nama Nia itu dan menatap Jeni.

“Jeni, aku minta maaf karena tidak mengetahui kejadian ini.” Aku tertunduk dan tak kuasa lagi menahan air mataku. Aku menyesal sebab telah mempersalahkan Nia karena hilang kabar.

Jeni mendekapku dan berkata, “Anton, aku di sini untuk menggantikan posisi Nia, kakakku.”

Kami berpelukan di hadapan nisan Nia, tempat terakhir yang menjadi pelabuhan kepastian selain halte. Aku akhinya mengerti tentang apa yang pernah Jeni katakana, “sebenarnya pertemuan ini sudah aku rencanakan”. Kata-kata ini mengantarku ke pelabuhan kepastian pada nisan dan di hadapan Jeni.


Baca juga: Puisi-Puisi Paskal Kedang



Penulis akrab juga dengan sapaan Jowe, berasal dari Bajawa. Sekarang tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero dan sedang sibuk mengurus Youtube Lensa Efrata. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...