Hujan
mulai mereda pertanda hujan sore ini akan usai. Mataku tertuju tenang melihat
rintik-rintik hujan yang jatuh pada genangan air di pinggir halte tempat aku
berteduh. Aku sendiri ditemani hembusan angin yang mencumbu kulitku. Cumbuan
angin yang cukup liar membuat tubuhku sedikit bergetar.
Hujan
awal Oktober sering membuat aku terpaku berjam-jam di halte ini setiap kali aku
pulang dari tempat kerjaku yang jaraknya cukup dekat. Dan hiburanku saat
menyendiri di sini hanyalah menikmati butir-butir air yang jatuh dari langit
pada genangan air di pinggir halte. Butir-butir air itu menemani lamunanku
tentang seorang perempuan yang sebelumnya selalu bersamaku berteduh di halte
ini. Namun, sudah beberapa hari ini ia tidak muncul mengusik sepi saat hujan
awal Oktober ini. Kami sempat berkenalan dan bisa jadi kami saling suka.
Senyuman yang menawan mengisyaratkan cinta pada pandangan pertama pada hujan
awal Oktober. Kami berkenalan dan selalu bersama di halte itu. Nama perempuan
berparas cantik itu Nia. Aku tidak sempat menanyakan tempat tinggalnya, tetapi
yang aku tahu dia adalah anak seorang pensiunan polisi.
Sekian
lama aku hanyut dari lamunan tentang Nia, sambil hatiku terus menggemakan tanya
tentang dirinya yang beberapa hari ini tidak muncul. Tiba-tiba angkutan yang
aku tunggu sedari tadi muncul di tikungan dan mengarah ke halte. Aku melambaikan
tanganku sebagai isyarat kepada sopir agar berhenti di depan halte. Sebelum
angkutan itu berhenti, sebuah tangan dari arah belakang menarik tangan kananku.
Serentak aku membalikkan wajahku dan mendapati senyuman tipis yang telah lama
hilang.
“Jangan
pergi dulu,” kata Nia dengan ekspresi wajah sedikit memelas.
Aku
lalu memberi isyarat kepada Pak Supir untuk berjalan terus dan akhirnya
angkutan itu terus melaju meninggalkan aku dan Nia di halte. Hujan masih
rintik-rintik sementara aku dan Nia kembali duduk dan terdiam cukup lama.
“Apa
kabar Nia? Lama tidak kelihatan,” tanyaku membuka percakapan.
“Aku
selalu di sini bersamamu, Ton. Tapi kau tak melihatku,” jawab Nia.
Aku
menatapnya keheranan. “Bercanda kamu, aku sudah beberapa hari ini selalu
sendiri di halte ini.”
“
Benar Anton. Aku ada di sini bersamamu. Kamu saja yang terus mengelamun.
Tatapanmu hanya kepada rintik hujan dan tidak menyadari aku ada di sampingmu.”
“Hahaha,
sudalah Nia. Cukup candamu. Aku serius karena sudah beberapa hari aku tak
melihatmu. Padahal perjumpaan kita di halte ini adalah saat yang selalu aku
nantikan.”
“Kau
merindukanku?” tanya Nia sambil tersenyum malu.
Aku
pun ikut tertunduk malu karena kalimat itu keluar dengan sendirinya. Aku
kembali menatapnya dalam. “Iya, Nia. Aku merindukanmu karena aku sadar bahwa
aku menyukaimu setelah banyak kesempatan kita bersama di halte ini. Aku ingin
kamu selalu ada di sampingku bukan hanya di halte ini.”
Nia
tertunduk. Wajahnya mengekspresikan sesuatu, tetapi aku tidak berani menebak
arti ekspresi itu.
“Anton,
aku juga sebenarnya menyukaimu sejak awal pertemuan kita, tetapi aku tidak
berani mengungkapkan perasaanku.”
Terus
terang aku gugup mendengar apa yang baru saja Nia sampaikan. Ternyata kami
berdua benar saling menyukai.
“Nia,
maukah kau menjadi pacarku?” tanyaku tak sabar.
Nia
terdiam cukup lama. Entahlah, mungkin pertanyaan itu terlalu cepat untuk dia
yang bertemu denganku hanya karena hujan yang membawa kami berteduh di halte
ini, atau mungkin ada hal lain.
“Anton,
aku menyukaimu dan kau juga menyukaiku. Aku butuh waktu untuk menjawab
pertanyaanmu.”
“Tidak
masalah, Nia. Aku akan menunggu jawaban darimu.”
Hujan
sudah reda dan kami memilih untuk tetap duduk di halte dan saling bertukar cerita
sampai angkutan datang lagi. Setelah itu kami kembali ke rumah masing-masing.
Baca juga: Puisi-Puisi Rommy Sogen
***
Satu
tahun berlalu. Nia kembali menghilang setelah peristiwa aku mengungkapkan
perasaan dan rinduku. Tanpa sadar aku perlahan membencinya karena aku merasa
dipermainkan. Masih di halte yang sama, setiap hari aku duduk dan menanti
kehadiran Nia yang belum memberi jawaban atas perasaanku kepadanya. Satu tahun
aku menanti jawaban dan sosok Nia. Satu hal yang aku sesali bahwa aku tidak
sempat meminta nomor teleponnya sehinga aku dilanda tanda tanya tentang
hilangnya kabar tentang Nia. Akhirnya aku sendiri menyerah pada waktu yang
menyeretku sampai pada kesimpulan bahwa Nia pasti sudah berbahagia dengan
laki-laki pilihannya yang bisa jadi lebih tampan dan lebih baik dariku.
Membayangkan bahwa dia sudah punya kekasih lain sudah menyulut emosiku. Tetapi
aku sendiri seperti tidak yakin dengan kesimpulan ini. Jika benar Nia yang aku
cintai harus bahagia dengan lelaki lain, aku sudah siap menerima kegagalanku
dalam mencinta dan akan membencinya seumur hidupku.
Waktu
terus berjalan sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang perempuan di halte
pada siang hari. Tanggal hari ini sudah di pertengahan Oktober, saat di mana
aku sedang kembali bernostalgia dengan ingatan saat pertama bertemu dan jatuh
cinta kepada Nia dua tahun silam. Kami berkenalan dan akhirnya aku tahu nama
perempuan itu Jeni. Anehnya kisah pertemuan kami tidak jauh berbeda dari kisah
pertemuanku dengan Nia. Kami makin hari makin dekat, sampai aku sendiri sadar
bahwa aku menyukainya. Rasa yang hadir sama seperti rasa yang muncul dua tahun
silam kepada Nia. Setelah berulang kali bertemu dengan rasa cinta yang semakin
kuat, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya.
“Jeni,
aku mau mengatakan sesuatu,” kataku membuka percakapan. “Sebenarnya aku
menyukaimu sejak awal kita bertemu di halte ini. Maukah kamu menjadi pacarku?
Jeni
melongo. Mulutnya terbuka dan tatapannya begitu dalam ke arah mataku. “Kamu
serius, Ton?” tanya Jeni.
Aku
menggenggam tangannya. “Aku serius, Jen. Aku menyukaimu bahkan setelah lamanya
kita selalu bersama, halte ini menjadi saksi bisu bahwa aku sayang dan
mencintaimu.”
Jeni
tersenyum ringan, tetapi ada yang aneh dengan senyuman itu.
“Anton,
aku juga sebenarnya menyukaimu. Pertemuan ini sebenarnya sudah aku rencanakan.
Bukan sebuah kebetulan. Dan setelah mengenal dan dekat dengan kamu, aku merasa
nyaman. Namun, ada yang lain yang harus kamu ketahui terlebih dahulu sebelum
aku menjawab pertanyaanmu tadi, ya.” Jelas jeni sambil tertunduk.
“Baiklah,
Jen. Aku akan menunngu jawaban dari kamu. Tetapi apa maksudmu bahwa kau sudah
merencanakan pertemuan ini dan bukan sebuah kebetulan?” Aku bingung.
Jeni
kembali tersenyum padaku. “Besok aku mau kamu datang jam 8 pagi di halte ini.
Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan”
“Baiklah,
Jen.” Jawabku senang bercampur heran. Tetapi, ya sudahlah. Toh waktu Jeni untuk
menjawab pertanyaanku tidak memakan waktu bahkan tidak seperti menanti jawaban serupa kisahku dengan Nia.
Keesokan
paginya sesuai dengan permintaan Jeni, aku duduk menunggu di halte tempat awal
kami bertemu. Aku tidak sabar lagi mendengar jawaban dari Jeni. Tidak lama aku
menunggu, Jeni tiba-tiba berdiri di sampingku entah sudah berapa lama. Aku
menatapnya dalam dengan penuh harap mendengar jawaban darinya.
“Anton,
aku sudah memutuskan bahwa aku mau menjadi pacarmu. Terima kasih untuk
keberanianmu mengungkapkan perasaanmu padaku. Aku siap menjalin tali cinta
bersamamu,” kata Jeni sambil tersenyum.
Aku
sangat bahagia mendengar jawabannya. Tetapi ada yang aneh dengan tatapan
matanya. Matanya perlahan berair dan sedikit lagi akan tumpah membasahi
pipinya.
“Jeni,
terima kasih ya sudah mau menerima perasaanku. Aku sayang kamu dan aku berharap
kita sama-sama berjalan menjaga tali cinta kita ini sampai keabadian,” pintaku
dengan semangat yang membara karena terlampau bahagia.
Aku
mendekapnya dan menarik tubuhnya kedalam pelukanku. Tidak lama kemudian, aku
merasakan getaran tubuhnya semakin kuat. Aku kemudian melepas pelukanku dan
menatapnya dalam. Belum aku bertanya Jeni mengusap air matanya dan berkata.
“Anton,
aku minta maaf. Sebenarnya aku adalah adik dari Nia. Perempuan yang menghilang
setahun yang lalu dari hidupmu. Yang hilang bersama jawaban atas perasaan yang
kau utarakan padanya.”
“Apa?
Kau adik Nia?” Aku tersentak mendengar apa yang baru saja dia katakan.
Tanpa
berkata lagi. Jeni menarik tanganku dan membawaku ke suatu tampat yang belum
pernah aku pijaki.
Tubuhku
terpaku, kakiku sedikit bergetar dan ingin rasanya aku menangis. Batu nisan yang
aku lihat di hadapanku yang bertulisakan membuatku mati seribu bahasa. Nama
yang menghilang bersama raga dan jawabannya setahun yang lalu.
“Nia
adalah kakak perempuanku. Dia mengalami nasib tragis, ditabrak oleh orang yang
tidak bertanggung jawab tepat pada hari yang dia rencanakan akan memberi
jawaban pasti untuk menjadi kekasihmu.” Jelas Jeni.
Aku
masih terpaku. Tubuhku melemah karena perasaan yang berkecamuk dalam diriku.
Aku berpaling dari batu nisan bertuliskan nama Nia itu dan menatap Jeni.
“Jeni,
aku minta maaf karena tidak mengetahui kejadian ini.” Aku tertunduk dan tak
kuasa lagi menahan air mataku. Aku menyesal sebab telah mempersalahkan Nia
karena hilang kabar.
Jeni
mendekapku dan berkata, “Anton, aku di sini untuk menggantikan posisi Nia, kakakku.”
Kami
berpelukan di hadapan nisan Nia, tempat terakhir yang menjadi pelabuhan
kepastian selain halte. Aku akhinya mengerti tentang apa yang pernah Jeni katakana,
“sebenarnya pertemuan ini sudah aku rencanakan”. Kata-kata ini mengantarku ke
pelabuhan kepastian pada nisan dan di hadapan Jeni.
Baca juga: Puisi-Puisi Paskal Kedang
Asyeeekk
BalasHapusDalam la azi jao, "Nia, Aku padamu"....
BalasHapusAsikasik, salam untuk anton😅
BalasHapus